• Home
  • About
  • Contact
Tumblr Instagram Twitter

 joanlucky

Drupadi merupakan salah satu film yang sudah ingin aku tonton sejak film ini awal dirilis pada tahun 2008. Tetapi karena ternyata Drupadi hanya diputar untuk kalangan terbatas dan aku nggak pernah mendapatkan kesempatan buat menonton film ini, aku cuma bisa menunggu sampai entah kapan. Dan setelah 9 tahun menunggu, penantianku pun akhirnya berakhir pada hari Sabtu (18/02), ketika Drupadi menjadi salah satu film yang diputar pada program bulan Februari di Kineforum.

http://milesfilms.net/drupadi/
pic from google

Dulunya aku tertarik buat nonton film ini cuma karena film ini dibintangi oleh Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Tapi setelah mencari informasi lebih lanjut tentang film ini, aku jadi tambah pengen buat nonton karena cerita dan line-up-nya yang menjanjikan. Apalagi Miles Film bekerjasama dengan Yayasan Bagong Kussudiardja. Udah kebayang dong film bertema budaya yang diproduksi sama orang-orang yang ahli di bidangnya.

Mengadaptasi salah satu episode epos Mahabharata klasik dari India, Drupadi menceritakan kisah Drupadi yang merupakan istri dari Pandawa. Perlu digarisbawahi kalau kisah Drupadi dalam pewayangan Jawa berbeda dengan versi India. Di pewayangan Jawa, Drupadi merupakan istri Yudhistira.

pic from google

Drupadi yang terlahir dari rahim agni menjadi istri Pandawa setelah Arjuna memenangkan sayembara memanah yang diadakan untuk menemukan pendamping hidup Drupadi. Meskipun ini merupakan sebuah sayembara, Drupadi sebenarnya turut ambil bagian dalam kemenangan Arjuna yang telah membuatnya jatuh hati. Drupadi menolak Karna yang mengikuti sayembara tersebut dengan alasan Karna adalah anak seorang kusir hingga Arjuna pun akhirnya berhasil memenangkan sayembara tersebut setelah berhasil memanah bunga teratai di atas kolam dan membuat kelopaknya terbagi menjadi lima. Drupadi yang hanya mencintai Arjuna ini pun akhirnya harus memenuhi janji Dewi Kunti dimana apapun yang dimiliki oleh seorang Pandawa adalah milik keempat Pandawa lainnya.

pic from google

Drupadi pun memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri untuk kelima suaminya dengan baik sampai datang undangan dari keluarga Kurawa untuk bermain dadu. Drupadi dan keempat Pandawa berusaha meyakinkan Yudhistira bahwa mereka cukup memenuhi undangan Duryudana tanpa harus bermain dadu tetapi Yudhistira memutuskan untuk memenuhi undangan untuk bermain dadu.

pic from google

Pada akhirnya Yudhistira menjadikan Drupadi sebagai taruhan setelah ia mengalami kekalahan yang beruntun dari Kurawa dalam permainan dadu hingga tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Tidak negaranya, tidak saudara-saudaranya, tidak pula dirinya sendiri. Yudhistira pun lagi-lagi kalah dan Drupadi diseret layaknya seekor kuda oleh Dursasana. Drupadi berteriak dan memberontak. Ia mempertanyakan keberadaan kelima suami dan para tetua yang hanya terdiam ketika ia diperlakukan dengan biadab oleh Kurawa. Ia juga mempertanyakan apakah Yudhistira yang bahkan sudah tidak memiliki hak atas dirinya sendiri masih bisa menjadikan istrinya sebagai taruhan. Ia pun menangis memohon pertolongan kepada Kresna dan keajaiban terjadi. Kain yang membalut tubuh Drupadi terus terulur tak ada habisnya ketika ditarik oleh Dursasana hingga ia dan para Kurawa kelelahan.

pic from google

Drupadi berhasil menjaga kesuciannya dan ia pun berjanji untuk tidak mengikat rambutnya sampai ia bisa mencuci rambutnya dengan darah Dursasana. Pada akhir film ditampilkan pertempuran berdarah antara Pandawa dan Kurawa selama 18 hari.

* * *

Is it worth the wait?
Absolutely.

Karakter Drupadi sendiri adalah karakter yang menarik buat aku. Drupadi adalah sesosok perempuan yang cantik, pintar, dan berbakti kepada suami(-suami)nya. Mungkin memang terdengar biasa saja dan sama seperti tokoh-tokoh protagonis perempuan pada umumnya. Tetapi ada yang perlu diperhatikan di sini. Pada jaman dimana perempuan dijadikan barang taruhan dan diperlakukan tidak lebih dari sebuah benda, Drupadi berani menyuarakan penolakannya pada Kurawa dan bahkan mengutuk suami-suaminya serta para tetua yang tidak melakukan apapun ketika dia dihina sedemikian rupa. Bahkan pada akhirnya, ia mampu membalaskan dendamnya kepada Dursasana.

Dari segi directing, cinematography, costume design dan styling, serta musik, tidak ada yang mengecewakan. Riri Riza dan Gunnar Nimpuno sebagai sutradara dan penata kamera mampu berkolaborasi secara apik untuk meneritakan kisah Drupadi dengan apik dan membawa penonton untuk ikut merasakan kepahitan yang dialami Drupadi. Penataan musik gamelan yang megah oleh Djaduk Ferianto menambah keindahan film ini. Tidak ketinggalan costume design dan styling yang diemban oleh Chitra Subijakto memperkuat kesan terhadap film ini. Secara keseluruhan kombinasi para ahli dalam tim ini menyajikan sebuah film yang kental dengan budaya dan keindahan dan membawa pesan yang mengajak para perempuan untuk berpikir cerdas dan berani memperjuangkan hak-haknya.

Hanya satu hal yang kurang dari film ini: durasinya yang hanya 40 menit. Menurut artikel yang aku baca, sebenarnya Drupadi ini akan dibuat lanjutannya. Tetapi sayangnya, karena film ini mengangkat isu yang sensitif sehingga menuai banyak kontroversi, tim produksi akhirnya memilih untuk memutarkan film ini bagi kalangan terbatas saja.

Jujur memang tidak banyak film-film produksi dalam negeri yang aku tonton. Aku memandang sebelah mata film-film tersebut karena kualitasnya yang sering mengecewakan. Selain itu tidak mudah untuk menonton film-film dalam negeri yang berkualitas (sebut saja Drupadi ini). Tapi setelah melihat Drupadi, aku jadi makin teryakinkan kalau sebenarnya kita mampu kok untuk membuat film-film yang berkualitas. Baik dari konten cerita maupun 'penampilannya'. Semoga akan lebih banyak lagi film-film Indonesia berkualitas yang mengajak penonotonnya untuk berpikir cerdas seperti Drupadi ini.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
I never watched a concert, but when I do, I watch Coldplay :p

 I was among those 60,000 lucky people who got to experience the magic of Coldplay's A Head Full of Dreams concert in Singapore on March 31st, 2017! I've been in love with Coldplay since I first heard Yellow years ago, so it was kinda surreal for me to be able to watch them live in concert and ticked off one of the top things to do in my bucket list. Coldplay's concerts are undoubtedly among the best, if not the best, concert on earth particularly for me who has never seen a "real" concert before.

I believe that the beginning of this unforgettable experience was just as dramatic as everyone else's. Purchasing the tix for the concert was a bloody battle. I failed at my attempts to buy the tix, both at the first and the additional sale, that I left it to my fate. If I was meant to watch it, I knew I would. Miraculously, my friend, Icha, got the tixs for us to watch AHFOD!

Long story short, after waiting for four months we finally made it to our first ever Coldplay's concert! The concert was actually started at 8 p.m but because Icha believed that we might not get the Xyloband if we didn't come there early enough, we came to Singapore National Stadium around 11 a.m. We later found out that that was not true. The Xyloband was limited means that one person could only get one. Well, we were just too excited for the concert, you know. As we predicted we were not the only ones who came early. Some of the Standing Pen ticket holders were already queuing since it was opened at 11 a.m. The people who held seated tickets like us were either strolling around, admiring the remarkable Singapore National Stadium or queuing for the concert's merchandise.

   

 Around 2.00 p.m, a familiar voice could be heard from inside the venue. Chris Martin was doing a soundcheck. Everybody was thrilled: some people were screaming and I was feeling as if I could cry for directly hearing Chris Martin's voice for the 'first time'. Well, he didn't sound any different tho... but the euphoria of being at the same venue with him and going to watch him perform was just overwhelming.

At 6.00 p.m. sharp, the gate was open. We scanned our tickets, took the Xyloband and the Love Button, and went to our seats. The standing section looked more chaotic. Everybody ran as fast as they could to get the best spot in front of the stage. I was choked as I enter the venue as it was my very first time being in such a big stadium for a big concert. The view from my seat was straight to the front of the stage (before the crowds haha). After getting to my seat I still calmly observed my surroundings, went to the toilet and bought myself a drink.

 

Exactly at 8.00 p.m. O Mio Babbino Caro was played as a sign that the concert was about to start. Then the light were suddenly turned off. It was dark. Everybody screamed out of excitement. The screens were turned on then showed an opening video followed by a countdown. The screams were getting louder as the Xyloband flared up in red, turning the stadium into a red ocean. It got a bit quiet down as Charlie Chaplin's speech was being played... until the intro of A Head Full of Dreams kicked in. And the concert was started. 

 

 As the concert began, I was in a state of disbelief that I was watching Coldplay. Then right when Yellow was played that it hit me 'I AM WATCHING COLDPLAY LIVE IN CONCERT!' The Xyloband turned yellow, the lighting on the stage  radiated yellow light and everybody was pouring their hearts out while sang along, including me. 

 

 The rest of the concert was  m a g i c. The laser was breath-taking, the sound system was excellent, the Xyloband was vibrant, and the performance was solid. In addition, they used extensive laser light and pyrotechnic visuals, fire, fog and fireworks on stage, and threw colorful confetti and balloon to the crowd.
 
 
 

They presented 23 songs non-stop with many engaging improvisation like when they used Tiesto remix for the outro of Paradise, or when they performed Birds with Oceans excerpted in the intro, or when Army of One was excerpted into Clocks' intro then followed by Midnight, and many more (you can read the setlist here). Will and Jonny were on lead vocals performing Don't Panic as Chris "took a break". They played their new song in this ocassion. It was the first time for Coldplay to play Something Just like This in their concert. Even though I like The Chainsmokers, I think it sounded better then when they played it together with The Chainsmokers tho.

  

 There were too much feelings to handle in one moment. I was moved, delighted, overjoyed, in disbelief, in an awe and I could also feel the energy, the excitement, and the happiness from the crowd as well as the love from fans to Coldplay, and vice versa. Coldplay didn't only give an epic performance. It was as if they wanted to show their gratitude and 'pay' us for being there. It worth every penny to be in the middle of this amazing crowd.
 
The concert was (and will) Always in My Mind as I had A Head Full of Dreams for months, waiting for this concert. And when I finally experienced it, it was Magic, it was an Amazing Day. Indeed, I was lucky to be able to be a part in this concert. Thank you Coldplay! A round of applause for Chris, Jonny, Guy, Will, and the team who made this marvelous concert happen. Thank you!

 




P.S. It's been two weeks after the concert and I still cannot move on. So this is what Post-Concert Syndrome feels like, eh?
God, I do sincerely wish that I would have more chances to watch them again. Please let them have a concert in Indonesia. Amen. 


Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
A pretty late post it is. But it's better than no post at all, right? :p

Happy New Year, everyone! Selamat tahun baru 2015! *nyalain kembang api*
Semoga tahun ini bisa jadi tahun yang lebih baik dari tahun sebelumnya (in many ways), resolusi 2014 yang belum tuntas bisa beres di 2015, dan semoga kita tetep selalu bahagia... no matter how hard it might be. Fighting!

Anyway, kubuka lembaran baru di tahun 2015 ini dengan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya selama duapuluhsekian tahun hidup di dunia ini, akhirnya aku ngecamp di pantai pas malem tahun baru. Biasanya kalo malem tahun baru cuma di rumah aja bakar-bakar jagung ato nonton film di TV, kali ini malem tahun baru bener-bener diisi dengan sesuatu yang menantang.

Ada 8 orang yang ikutan seru-seruan ngecamp di pantai kemarin: Aku, Difara, Agnes, Aham, Happy, Ucik, sama Rika. Awalnya kami mau ngecamp di Pantai Siung, tapi pas kami tiba di sana sekitar jam 5 sore tempatnya udah full sama tenda-tenda dan kayaknya udah nggak memungkinkan buat mendirikan tenda. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Pantai Jungwok.

Begitu (hampir) nyampe di Pantai Jungwok, tepatnya di parkiran deket Pantai Wediombo, kami (dan pengunjung-pengunjung lain) dicegat sama beberapa warga sekitar. Mereka ngasih tau kalo jalanan ke sana nggak bisa dilewatin kendaraan, kecuali kami mau motor kami terjebak dalam jalan yang udah berubah jadi kubangan lumpur. Untungnya kami disuguhi pemandangan super kece pas matahari terbenam.


 Akhirnya kami mengikuti anjuran para warga sekitar tersebut buat parkir di sana dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Destinasi kami pun berubah jadi Pantai Greweng karena menurut bapak-bapak itu, Pantai Jungwok udah rame banget dan lebih sepi Pantai Greweng.

Perjalanan ini dibagi jadi 3 kloter: Aku, Agnes, Difara sama Happy yang dengan sok taunya ngeloyor duluan; Ucik sama Rika yang ketinggalan; dan Aham sama Rully yang makan dulu di Wediombo. Nah, ternyata perjalanan yang harus kami tempuh sungguh sangat menantang. Sang matahari telah kembali ke peraduan saat kami memulai perjalanan kami. Berbekal senter HP, kami menyusuri jalanan yang ternyata sungguh amat begitu berlumpur. Berasa jalan di dalem sawah gitu sampe akhirnya kami pun nyeker saking berlumpurnya. Setelah di tengah jalan akhirnya romongan I ketemu sama Ucik sama Rika, kami meneruskan perjalanan dan melewati jalanan yang berbatu dan bikin mengeluarkan suara yang aneh-aneh masih dalam keadaan gelap gulita.

Akhirnya setelah 2 jam peralanan yang harusnya kalo jalannya normal bisa ditempuh 1 jam aja, kami tiba di Pantai Greweng. Daaaan... pantainya rame ha ha ha.Yah, apa boleh buat? Akhinya kami mencari tempat yang sekiranya masih bisa ditempati terus mendirikan 2 tenda. Kami membuat api unggun terus bakar ubi cilembu, sambil nyanyi-nyanyi diiring gitarnya Aham sambil ngobrol gak tentu arah sampai jam 12. Sayangnya langitnya agak mendung, jadi nggak banyak bintang yang keliatan. Sesuai prediksi kami, orang-orang pasti pada bawa kembang api, jadi kami gak usah repot-repot bakar duit tapi bisa ikut menikmati pesta kembang api wkwk. It was so beautiful and lively. When the firework blew up, I could see the surroundings clearly and it was somehow magical.



I managed to get some sleep, dan pas bangun subuh-subuh, bintangnya bertaburan di angkasa. A sky full of stars! Cantik. Banget. Next time kudu banget ngecamp di pantai pas musim kemarau! I enjoyed my dawn by lying on the sand and staring at the stars. I was thinking about my plans for 2015. What I gotta do, what I wanna achieve, where I would love to go, and stuffs. 2015 indeed will be a tough year for me, but I'm sure it will be another magical year.


Begitu semuanya bangun, kami bikin kopi sama roti bakar buat sarapan. Makan bareng, selfie-selfie dikit, terus duduk-duduk sampai kami rasa cukup siang buat balik.






Let's have some adventures in 2015! 



video bonus
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Udah pernah denger tentang Cukang Taneuh a.k.a Green Canyon Pangandaran? Kalau kata wikipedia, tempat ini adalah ngarai yang terbentuk dari erosi tanah akibat aliran sungai Cijulang selama jutaan tahun yang menembus gua dengan stalakmit yang mempesona serta diapit oleh dua bukit dengan bebatuan dan rimbunnya pepohonan. Bisa bayangin betapa epiknya tempat ini? Super epikkk! Ditambah lagi dengan warna air sungainya yang ijo gitu dan tetesan air dari akar. Amazing lah pokoknya. 

pic taken from google
Nah, tempat inilah yang menjadi tujuan utama perjalanan kami dua minggu yang lalu. Selain menyuguhkan pemandangan yang super duper keren, Green Canyon juga menawarkan kegiatan yang memacu adrenalin kamu: body rafting. Kalo rafting kan mengarungi sungai pake perahu karet gitu, nah kalo body rafting ya tanpa perahu karet. Kamu menavigasikan badan kamu buat ngikutin arus sungai. Bayangin betapa menantangnya kegiatan satu ini!

Kami berangkat dari Pangandaran sekitar jam 9.00. Cuma ada satu jalan dari Pangandaran menuju Green Canyon, dan itupun nggak semuanya diaspal, sisanya masih tanah bergelombang yang bikin goyang-goyang gitu. Kami pun tiba di meeting point sekitar jam 10.00 dan langsung cus nyari mas Aa' Ridwan dari Guha Bau.



Setelah administrasi beres dan kami udah pake life-jacket, helmet, dan sendal gunung yang disediain dari tim Guha Bau, perjalanan pun dimulai. Butuh 30 menit naik pick-up melewati perkebunan kelapa dan hutan  buat nyampe di basecamp, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki turun menuju ke starting point. 




Dengan kaki yang masih gemeteran dan keringat yang mulai bercucuran abis jalan turun lumayan jauh, kami dihadapkan dengan tantangan pertama: loncat dari batu dan nyebur ke sungai! Berhubung ini baru lompatan yang pertama, udah pasti deg-degan gitu. Dan pas terjun, yang bikin takut adalah perasaan kok nggak nyebur-nyebur ke air. Selama beberapa detik kamu di udara, harap-harap cemas menanti kapan kamu nyemplung ke air, dan itu bener-bener thrilling!


Setelah sukses nyebur ke air, tantangan selanjutnya adalah mengarungi jeram sungai Cijulang. Berhubung ini musim hujan, arus sungainya lumayan kuat. Dan lagi-lagi, berhubung baru pertama kali mengarungi jeram, perasaan cemas, takut, dan khawatir pasti ada. Untungnya aa'-aa' guide-nya dengan sabar mendampingi kami. Eksekusi yang pertama selalu jadi yang terberat, ditandai dengan kesuksesanku menghirup air lewat hidung dan nggak ketinggalan menelan beberapa liter air. But it was funnn!


Setelah ngerasa berjam-jam di air, akhirnya kami istirahat di warung paling hipster yang pernah aku liat. Warungnya ada di pinggir sungai. Literally dipinggir sungai. Di sini dijual macem-macem minuman gitu, dari kopi, sus, teh, energen, dan popmie. Pokoknya pas banget buat perut keroncongan dan badan yang dingin gemeteran abis main air.



Begitu selesai beristirahat, kami melanjutkan petualangan kami. Balik masuk air lagi, lompat dari batu-batu tinggi lagi, mengarungi jeram lagi pokoknya gitu terus sampe kenyang. Nggak cuma itu aja sih, kami juga manjat batu-batu karang(?) yang tinggi, curam, dan (terlihat) licin. Bener-bener memacu adrenalin.



Trust me, it is better in real than in this pic

Airnya jatuh dari akar-akar pohon yang ada di atas batuan
Nggak cuma berenang tapi juga manjat batu-batu
Foto paling bagus
Loncatan yang paling berkesan buat aku adalah loncatan terakhir pas kami harus loncat dari Batu Payung. Aku rasa itu batu yang paling tinggi dan yang paling menantang. Banyak mas-mas yang nggak berani buat loncat dari Batu Payung, tapi aku dengan pede-nya langsung loncat begitu dikasih aba-aba sama guide. Bukan karena sok berani atau gimana, tapi kan sayang. Udah jauh-jauh nyampe Green Canyon masa nggak sekalian dicobain semua tantangannya? So I jumped.

Di loncatan yang terakhir inilah aku nyemplung terlalu dalem dan berada di dalam air lumayan lama. Kata temen-temen yang lain, aku nggak keluar-keluar haha. Akunya juga ngerasa sih, begitu nyebur masuk ke air, badanku nggak naik-naik. Aku bisa ngerasain oksigen di paru-paruku mulai habis dan dengan agak panik berusaha berenang ke atas. Setelah beberapa detik yang terasa seperti beberapa menit di dalem air, akhirnya aku bisa menghirup oksigen lagi dan ngerasa lega banget. It was sick! 

Me jumped off from Batu Payung. It's pretty high actually
Totalnya kami menyusuri sungai Cijulang sejauh +/- 3km selama 3 jam! In addition, berhubung kami nggak sabar nungguin perahu yang jemput kita di ujung Green Canyon, akhirnya kami memutuskan buat berenang nyampe ke dermaga(?), semacam tempat transit sekaligus peristirahatan terakhir sebelum balik ke basecamp gitu. Sejauh yang aku inget sih cuma kelompok kami doang yang berenang nyampe sana. Di sepanjang sungai menjuju ke sana, kami ketemu sama perahu-perahu yang ngebawa pengunjung yang tour make perahu. Dengan tatapan penasaran dan (mungkin) envy, mereka mengamati kami yang terapung di sungai.

Too bad pemandangan di sekitarnya nggak kefoto hiksss
Something purple
Asli bakalan laper banget abis mainan air 3 jam

The thing that you need to know is that I learned a lot from my body rafting experience: I learned how to deal with myself. I learned how to manage my fear, to trust my instinct, and to believe that I am capable of anything. I just need a little extra courage and self confidence. And I also learned that we, human, will always need the help of others that we must help others.

I'm a certified body-rafter!
So, it was it! My super thrilling and challenging body rafting experience. Kalian kudu banget nyobain body rafting di Green Canyon! I dare you!

Tips & Info seputar body rafting:
- Rate: Rp. 200,000/org (facilities: makan siang, snack, sertifikat, pemandu 2 orang/paket, transport ke starting point, perahu jemputan, safety jacket, helmet, sendal gunung, dry bag) 
- Pilih waktu yang tepat buat body rafting, pas air sungainya warnanya hijau
- Pakai kacamata renang pas mengarungi jeram dan lompat ke sungai. Membantu banget buat ngurangin panik.
- Bawa GoPro atau minimal kamera anti air. Kemarin kami bawa DSLR dan si aa' kurang bisa mengoperasikan gitu, jadi hasil foto-fotonya cuma dikit. Tapi kami menghargai banget usaha si aa' yang mempertaruhkan nyawa buat ngefoto kita kok. Makasih aa'!



Kontak Guha Bau Body Rafting
Ridwan Sugesti | BBM: 327445fc | Phone: 0852 9411 7116 | 


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Kemarin Sabtu aku dapet kesempatan buat ikutan Sekolah Berjalan yang diadain sama Komunitas Book for Mountain di SDN Purwodadi, Tepus, Gunung Kidul. Ngelewatin bukit, ladang, dan hutan, perjalanannya memakan waktu dua jam. And yes, dua jam di motor itu sukses bikin pantat tepos hahaha. Tapi semuanya terbayar begitu kami tiba di sana dan disambut oleh sorak-sorai sekitar 78 anak yang udah siap buat main.

Sebagai seorang pendatang baru yang baru sekali ini ikutan kegiatan semacam ini (dan nggak tau apa-apa), awalnya aku cuma diem aja sambil ngeliatin teman-teman lain yang udah lebih berpengalaman. Ada rasa agak kuatir juga sih pertamanya, soalnya belum pernah handle anak-anak sebanyak itu. And to be honest, I prefer toddlers to kids. So, at first, aku mengamati gimana cara teman-teman yang lain berinteraksi sama anak-anak, dan perlahan-lahan akhirnya aku bisa mengikuti ritme kegiatan ini. Mereka excited banget sama kegiatan-kegiatan yang udah disiapin, bahkan saking excited-nya sampe jadi susah diatur. Kids... hahaha. And it turns out that I did enjoy it. Kids could give as much fun as toddlers!







You guys should really try to do this kind of thing sometimes.
You have to experience by yourself how excited they are when they see you coming, the way they hold your hand tightly with their small fingers, how eager they are to tell you the things that they know and show you things they are good at, the way they pay attention to you, how their smile and laughter can make your day brighter and your heart feels warmer, and how they make you feel satisfied when you see they go home with the big smile on their faces.

Bahagia itu sederhana kok. Sesederhana melihat senyum penuh keceriaan merekah di wajah orang lain :)


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Hello!

About Me


Hello and welcome! I'm Joan. A social introvert who has enormous curiosity about the world. This is a space where I share bits of my experiences in this world. Enjoy!

Follow Me

  • Instagram
  • Twitter
  • Tumblr

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  June (1)
      • Kelahiran Manendra
  • ►  2020 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2017 (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2013 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (3)

Member of


Blogger Perempuan
Twitter Instagram Tumblr

Created with by ThemeXpose