Lombok part 3

by - February 16, 2014

Hari kedua di Lombok diawali dengan hujan dan sedikit banyak mempengaruhi mood kami. Keliatan banget pas mampir sarapan di Desa Puyung, Lombok Tengah buat makan Nasi Balap Inaq Esun, kami berlima nggak se-excited pas mau berangkat snorkelling. But the trip must goes on, no matter what happen with the weather.

Buat yang nggak suka pedes, Nasi Balap Puyung ini sangat tidak direkomendasikan. Pedesnya beda sama pedesnya makanan Jawa yang notabene manis, pedesnya Nasi Balap Puyung ini pedes asin dan pedesnya nggak main-main. Pedes banget, asli.

Usut punya usut, ternyata Nasi Balap Puyung Inaq Esun itu baru mulai populer tiga tahun belakangan. Nggak heran kalo ternyata ada warga Lombok yang nggak familier pas ditanyain tentang ini makanan. Istilah Nasi Balap itu sendiri tercipta karena dulu yang biasanya makan itu para pembalap yang mampir ke daerah Puyung.

















Setelah kenyang dan kepedesan, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sasak Sade. Ini salah satu tempat yang personally ada di daftar wajib kunjung karena aku (entah sejak kapan) tertarik banget sama pattern, dan motif kain tenun dan songket Suku Sasak itu cantik.

Nggak ada tiket buat masuk ke Desa Sasak Sade, jadi kita dipersilahkan memberi sumbangan seikhlasnya dan kita akan didampingi sama seorang guide yang bakal menuntun dan menjelaskan seluk beluk Desa Sasak Sade. Jangan lupa kasih tip juga ya buat guide-nya.


Untuk menjaga keaslian suku ini, masyarakat di Desa Sasak Sade menikah dengan sepupu mereka, entah itu sepupu jauh atau dekat. Nggak heran kalau kekerabatan di desa ini kerasa banget, dan mereka saling mengenal satu sama lain.


Belum jauh kami melangkah, ada mbak-mbak yang lagi menenun dan kami dipersilahkan buat nyobain. Ternyata menenun itu lumayan rumit dan butuh ketelitian serta ketelatenan lebih. Jadi buat kami yang belum pernah menenun sama sekali, agak kagok juga.

Di sini, para perempuan sudah diajari untuk menenun sejak kecil. Mereka nggak boleh menikah kalau belum bisa menenun dan menghasilkan sebuah kain tenun atau songket.


Benang yang digunakan untuk membuat kain di sini, dibuat sendiri dengan memintal kapas. Pewarna yang digunakan pun pewarna alami, sehingga warna yang dihasilkan juga cantik.




Kain tenun dan songket di sini dijual dengan harga mulai dari Rp. 100.000. Boleh banget kalo mau ditawar. Malah mereka bilang sendiri kalo mereka bakalan seneng kalo kita berani nawar harganya. Tapi kalo nawar ya jangan kejam-kejam banget lah ya. Satu lembar kain seukuran pasmina biasanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. So, be rational when you bargain here. Aku berhasil beli selembar kain dengan harga Rp. 90.000,- setelah menawar secara konsisten dan cukup lama. Awalnya harganya Rp. 150.000, fyi. 



Rumah adat di Desa Sasak Sade pun khas banget. Tau kan kalo rumah-rumah di sini dipel pake kotoran kerbau? Tapi nggak bau kok. Malah yang lebih kecium aromanya adalah bau dari jerami yang dipakai sebagai atap.





Puas berkeliling Desa Sasak Sade, kami menuju ke destinasi kami selanjutnya yaitu Pantai Kuta. Bukan cuma Bali ya yang punya Pantai Kuta, di Lombok juga ada. Biasanya pantai ini dipakai buat surfing. Tapi karena cuacanya nggak begitu bagus, kami nggak liat ada yang surfing.



Ini adalah pantai pertama yang kami kunjungi di Lombok. Pasirnya berwarna cokelat muda dan cukup lembut. Pantainya juga luas banget dan banyak batuan yang cukup besar. Sayangnya settingan kamera agak kurang pas, jadi fotonya keliatan gloomy banget.






Kami nggak stay terlalu lama di Pantai Kuta dan langsung cus ke pantai selanjutnya, Pantai Tanjung Aan. Buat menuju ke Sempet nyasar cukup jauh di perjalanan, tapi berkat GPS (Global Positioning System) dan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) kami berhasil kembali ke jalan yang benar. Sayangnya, setelah keluar dari jalan aspal, jalan menuju Tanjung Aan ini cukup parah. Sebelas-duabelas lah sama jalan kalo mau ke Pantai Pok Tunggal. Sedikit lebih parah deng.



Pantai kedua yang kami kunjungi ini berpasir putih dan pasirnya lembut. Udah gitu warna air lautnya juga biru, jadi perpaduan antara pasir putih dan biru laut-nya bener-bener memanjakan mata. Pantainya juga luas banget dan sepi.  







Pantai-pantai di Lombok emang ternyata beneran cantik-cantik, aku sudah membuktikannya sendiri. Kalo nggak percaya boleh kok buktiin sendiri ;)

p.s
Sorry for the bad quality of the photos. Baru sadar settingannya salah pas udah balik ke penginapan. Pffft~ Tapi percaya deh, aslinya jauh lebih bagus daripada fotonya.

You May Also Like

0 comments